Showing posts with label Postingan Waras. Show all posts
Showing posts with label Postingan Waras. Show all posts

Wednesday, April 16, 2025

Sang Jumawa

Gue kemarin abis pijet plus nih dapat cewe orang bandung, behh, bahenol, gede semua, gue ajakin lagi keluar ngamar doi mau, minggu depan gue mau pergi lagi nanti.

Gue kemarin dapat rokok linting ganja nih dari senior, dapet 3 batang rokok lumayan buat ntar di kantor.

Eh kita pergi acara di rumah nasabah yuk, pengen mabok gue nih, udah lama juga ga minum.

Begitulah potret seorang mantan rekan kerja yang sampai saat ini masih bekerja karena belum ketahuan kenakalannya oleh sebuah perusahaan daerah ternama. Hobinya menjadi sang diktator dalam sebuah kelompok kecil yang di sebut "seksi". Menjadi penguasa sejak delapan tahun pada seksi dan bidang pekerjaan yang sama membuatnya dijuluki sang jumawa. Kenapa tidak, dikala yang lain semua mengalami  rotasi karena masa kerja yang cukup lama, doi tetap bertahan dengan hanya di rotasi di dalam sebuah seksi tersebut, namun akhirnya kembali lagi ke pekerjaan lamanya. 

Beberapa pemimpin selalu mengandalkannya dan takut kehilangan sosoknya karena tak tergantikan dan memegang beberapa rahasia yang hanya boleh diketahui oleh seksi tersebut dan pemimpin cabangnya. Sang jumawa tentu semakin besar kepala bahwa dia mendapatkan nilai tertinggi dalam penilaian KPI (Key Performance Indicator) yakni metode penilaian untuk mendapatkan bonus tahunan dalam sebuah perbankan. 

Berbekal modal cap anak mantan seorang pejabat perusahaan tersebut, sang jumawa sudah dikenal semua orang karena sang Ayah yang lebih dulu nyentrik dengan gaya dan tutur bahasa yang bagi beberapa orang dikenal agak kasar. Tak banyak juga atasan yang membenci sang jumawa karena pernah menaruh dendam pada sang ayah dulunya. Dengan modal yang mantap, sang jumawa beberapa kali diikutkan dalam agenda penting karena dianggap mampu dan bisa handle beberapa project sangat penting.

Namun dibalik itu semua, hanya segelintir orang yang mau dan bisa berteman dengan sang jumawa, selain faktor arogan dan diktator, sang jumawa tidak ingin bahwa dalam circle kerjanya ada yang lebih hebat dan baik dibandingkan dengan dirinya. Baginya tidak ada teman dalam kantor ini, siapapun yang melebihi dirinya berarti siap untuk berhadapan dengannya. Ghibah dan fitnah selalu keluar dari mulutnya apabila ada yang melebihinya dari segi apapun, punya uang lebih dianggap fraud, punya mobil bagus dicap fraud, punya handphone lebih bagus juga dianggap fraud. 

Sang jumawa tak pernah luput dari apapun hal terbaru, isu dan ghibah seputar kantor, seperti si A habis beli mobil baru dengan uang hasil kredit pegawai, si B membeli HP dengan menghabiskan uang bonus, atau si C berlibur ke luar kota dengan hasil pinjaman pegawai bahkan si D yang kemarin pergi ke mall dengan istri orang lain. Kemudian menceritakannya kembali ke semua rekan kantor dengan mendramatisasinya agar semua menjadi tertarik untuk mendengarkannya. Tak jarang hasil ceritanya ini membuat beberapa rekan kerja yang awalnya biasa saja menjadi membenci rekan kerja yang lain. Tidak cukup lingkungan kantornya saja namun merambah sampai ke kantor cabang yang lain dan pejabat di lingkungan kantor pusat.

Jika toxic waste hanya bersifat bahan kimia yang tidak boleh dibuang sembarangan karena dapat merusak ekosistem lingkungan, maka ini dapat disebut dengan Nuclear Waste, karena tidak dapat dibuang sama sekali dan harus dimusnahkan. Mungkin itulah yang dapat dilakukan pada sang jumawa agar sebuah perusahaan tetap terjaga kebersihannya. 

Sampai saat ini sang jumawa masih bertengger pada seksi tersebut tanpa rotasi dan kembali menjadi penguasa serta diktator yang tak tergantikan, entah sampai kapan, mungkin sampai sebuah kenakalannya ter-expose dengan sendirinya ke perusahaan dan mendapatkan hukuman berat dari perusahaan nantinya.

Share:

Tuesday, April 15, 2025

Dunia Milik Penguasa

 Akulah yang akan menguasai dunia...

Kata kata ini sebenarnya tidak asing, dari kecil kita di doktrin bahwa karakter seorang yang di cap "penjahat" pada sebuah film yang kita lihat atau pada komik dan novel yang kita baca pasti pernah mengucapkan kata-kata ini. Belakangan berita pada beranda media sosial kita baik Instagram, Tiktok ataupun Youtube menayangkan perselisihan semua negara versus negara yang katanya masih "Adidaya" yaitu Amerika dengan Presiden super nyentrik mereka Donald J. Trump dan konconya yang tergabung dalam kabinet "Billionaire".

Dalam lingkup kecil dunia ini, bisa kita kategorikan dalam beberapa hal yang mungkin kita rasakan sehari-hari seseorang yang terlalu berambisi untuk menguasai dunia. Contoh kecil seperti di tempat kerja, kita selalu menemukan seseorang yang merasa benar, paling benar dan super benar. Berambisi untuk menguasai tanpa peduli karir orang lain yang tidak sepaham dengannya. Menggunakan praktek dan cara licik menyingkirkan dan menyebarkan fitnah yang mereka anggap lawan hanya untuk "menguasai".

Atasan yang menyingkirkan bawahan yang dianggap akan mengancam karirnya atau bahkan memfitnah dan menjelekkan sesama rekan kerja hanya karena mereka lebih pintar dan hasil kerjanya lebih baik. Sebuah pernyataan bahwa "paku yang bengkok tidak akan pernah di pukul dengan palu" itu menjadi referensi yang paling relevan dalam cerita hidup seperti ini. Kita tidak akan pernah difitnah, diasingkan, dibenci atau bahkan disingkirkan jika kita dari awal sudah membelok, membelok pada sesosok penguasa.

Sebuah reminder bahwa jika kita jujur kita tidak akan di senangi, penguasa lebih senang jika kita menundukkan kepala dan menjadi penjilat. Dunia tidak kekurangan orang pintar hanya kekurangan orang jujur mungkin sudah abadi dan dapat ditambah dengan Dunia ini hanya tempat pertunjukan bagi sang penguasa dan pengikutnya, selebihnya hanya menjalani peran di belakang layar untuk menunggu giliran tampil atau bahkan disingkirkan.

Share:

Hidup Adalah Tentang Perjuangan

Hidup itu tidak enak, Hidup itu selalu tidak adil, Hidup itu tidak melulu tentang kesenangan, Hidup tidak selalu bicara soal hobi yang menyenangkan, Hidup tidak selalu tentang mendapatkan pekerjaan yang disenangi, Hidup tidak selalu soal memiliki teman yang banyak dan baik.

Hari ini kita senang mungkin besok kita sedih, hari ini kita merasa kita memiliki segalanya, mungkin segalanya besok akan hilang. Semua yang bernyawa akan mati dan semua kesenangan atau kesedihan hanya titipan semata. Bisa jadi dengan segalanya kita di uji dan bisa juga dengan ketidaan pun kita sedang di uji.

Hari ini mereka teman kita, tapi besok bisa saja mereka mengkhianati kita. Kita tidak ditakdirkan untuk langsung bisa belajar dari pengalaman orang lain, bisa saja kita di sentak-kan oleh pengalaman kita sendiri. Hari ini kita mempunyai pekerjaan yang diidamkan banyak orang, bisa saja besok kita kehilangan pekerjaan tersebut. Hari ini kita melihat bagaimana orang berjuang menghadapi PHK massal yang tersiar di beranda media sosial kita, besok bisa jadi kita yang berjibaku dengan halaman LinkedIn atau Jobstreet.

Hidup tidak melulu tentang rasa cinta yang kita miliki, bisa jadi rasa cinta itu hilang esok hari. Hidup tidak ada yang abadi, yang abadi hanya perjuangan untuk hidup. Berjuang memiliki dan kemudian hilang, berjuang lagi dan hilang lagi. Terkadang dalam hidup proses memanusiakan manusia terlihat lebih sulit daripada memanusiakan hewan peliharaan. Ya, hidup ini terkadang mengajarkan kita bagaimana kita bisa menghargai sesuatu yang kita miliki dan menghabiskannya dengan bijak dan penuh tanggung jawab. 

Pada akhirnya semua hanya milik-Nya dan kepada-Nya lah kita berserah diri, mengutip perkataan seorang narasumber pada kanal sebuah youtube, "Ingat, semua pasti berlalu". Apapun keadaannya semua pasti berlalu, reminder agar kita semua tidak terlalu larut dalam kesenangan berlebih atau kesedihan mendalam.

Tapi sejatinya yang abadi hanyalah perjuangan, sampai kita tidak bernyawa nanti, hidup ini hanyalah tentang sebuah perjuangan.



Share:

Thursday, September 7, 2017

Merantau

"Eh, untung banget gue gak di tempatkan di surabaya, kalo gak sih gue pasti bakalan kangen berat sama keluarga, mau ketemu susah, mau ngumpul juga pasti susah banget", seru teman kantor gue membuka obrolan di ruangan pada pagi hari.

"Ya, begitulah", jawab gue santai.

Tiga tahun yang lalu di suatu pagi ditemani dua cangkir kopi hitam pekat yang gak manis punya temen gue, yang manis banget itu punya gue, yang buat kopi tau percis mana yang manis dan mana yang pahit. Gue bukan orang yang suudzon, tapi gue yakin kalo Pramubakti di kantor gue pengen gue cepet diabetes dan dia akan naik tahta menggantikan posisi gue yang udah gak bisa disembuhin, gara-gara kopi-yang-terlalu-manis-buatan-pramubakti tersebut. Gue gak bisa ketipu semudah itu men, gue tau trik lo Akbar (nama pramubakti). Karena kesal sama si akbar, kopinya pun gue habisin.

Pagi itu dingin banget, bukan karena hujan tapi pontianak lagi kabut asap, gue sampe sekarang gak tau apa hubungannya kabut asap sisa pembakaran lahan sama dingin pagi. Setiap kabut asap pasti pagi-paginya dingin banget. Sembari ngerjain laporan deru bunyi mesin printer gue menghiasi ruangan gue pagi itu, tiba-tiba dering telepon memecahkan suasana bising printer gue.

"Ya, halo", sahut gue.
"Eh gil, tolong cetak laporan nasabah gue donk", pinta temen gue yang lain.
"Hmm, Ok gue cetak, ntar gue anter di meja lo", Jawab gue mantap.
"Ok, thanks ya, oh iya, gue pingin pulang kampung nih, boleh gak izin tiga hari", Tanya dia.
"Gimana ya, coba tanya pimpinan dulu deh, gue gak berani kasi izin soalnya", jawab gue.
"Oke deh, thanks yo", jawab dia lagi sembari menutup telepon.

Gue pun menutup telepon dan menyadari bahwa temen seruangan gue, Erick udah gak ada di meja dia. Awalnya gue pikir doi dimakan kabut asap, which is gue seneng, sekarang ruangan sepenuhnya milik gue, baru aja gue mau teriak MERDEKA ala-ala bung karno yang gue search di youtube. Si erick nongol dari lorong sambil nepok-nepok perutnya kayak om-om habis makan babi panggang ditemani para banci.

"Lo darimana ?", tanya gue.
"Biasaaa, lagi mobile", jawabnya anteng.
"Mobile ? lo abis meeting ya ?", tanya gue lagi masih bingung.
"Bego lo, mobile di wc doonk", jawabnya sambil tertawa.
"Kampret lo, bilang ajaa lagi eek", jawab gue kesel, untungnya gue lagi gak bawa korek api.

Erick merupakan teman sekantor dan seruangan gue, orang batak tapi gak keliatan bataknya, karena doi gak bisa nyanyi, jadi gue selalu bilang kalo doi itu batak yang gagal, karena semua temen gue yang batak gue tau berbakat banget dalam hal vokal. 

"Eh, tadi si (yang-mau-minta-izin) nelpon nanyain gue yah ?", tanya erick.
"Pede amat lo, dia nanyain boleh cuti tiga hari gak, dia mau pulang kampung katanya", jawab gue.
"Emang kita boleh cuti ya ?", tambahnya.
"Setau gue sih gak boleh cuti kalo masih karyawan kontrak", jawab gue anteng.

Erick pun pergi bergegas ke mejanya dan ngerjain laporan yang harus dia buat karena di tunggu deadline oleh supervisor kami. Sementara itu di lantai bawah, gue masuk ke ruangan BOS buat antar laporan harian gue, hanya basa-basi dikit sama BOS tanpa cipika-cipiki gue bergegas kembali keruangan gue dan TERNYATA . . .gak kok, erick gak minum ampas kopi lewat hidung, walopun gue pengen liat, tapi gue gak tega, jadi gue saranin mending erick rekam aja terus upload ke youtube.

Ternyata si yang-minta-izin-tiga-hari tadi ada di ruangan gue minta tanda-tangan dan cap pengesahan dari gue kalo doi udah dapet izin buat pulang kampung ke tanah sumatra sana.

"Wih, dapet tuh izinnya", seru gue sambil nyengir-nyengir.
"Dapet donk, gue udah ngerayu pak bos dengan maksimal, minta tanda tangan sama cap lo donk", jawabnya sambil senyum selebar 32,8 cm.
"Rayu gue donk kayak lo ngerayu pak bos", jawab gue sambil ngeluarin tawa jahat gue.
"Enak aja lo, emang lo bos gue ishhh", jawabnya ketus
"Canda doaank, sini suratnya", sambil gue tanda tangan, gue termotivasi jadi bos supaya bisa di rayu sama anak buah gue nanti, tapi yang cewek ya, INGAT itu ~

Doi pun pergi dengan riang gembira ke ruangannya di bawah, dan tiba-tiba erick muncul dari dalam kegelapan gudang nanyain gue,
"Kampreeet", jerit gue kaya banci gak dibayar full. 

" Eh, dia mau izin kemana ?", tanya erick sambil nyengir
"Pulang kampung, alasannya sih kakaknya nikah, tapi sekalian dia bilang kangen rumah, tiga tahun merantau di Pontianak tapi belum pernah pulang", jawab gue.
"Kasian amat ya, jauh-jauh merantau", jawab erick mendramatisir.
"Hmmm, ya mau gimana lagi, namanya juga demi kerja", sahut gue.

Dalam hati gue juga mikir hal yang sama, gimana kalo gue yang ngerasain hal tersebut, apa gue sanggup gak ketemu keluarga gue selama tiga tahun. Apalagi gue ini tipe anak laki-laki yang gak bisa jauh sama orang tua, atau populer disebut anak mami. Gue ngerasa kalo kerja di tanah orang lain tapi sebenernya kita bisa kerjain di tanah kelahiran kita sendiri itu sia-sia. Hasilnya juga gak banggain orang tua, karena orang tua mau banggain apa juga kalo anaknya memang gak bisa atau gak pernah pulang untuk menunjukkan hasilnya. Pikiran orang tua gue sih anak laki-laki itu harus merantau jauh-jauh supaya nampak kalo anaknya itu laki banget, menurut gue itu salah, nunjukkin laki itu simple bagi gue, dengan nunjukkin titit lo semua orang pasti tau lo laki-laki.

Prinsip gue, gue bakal dekat sedekat-dekatnya sama orang tua gue selagi mereka masih ada dan masih bisa ada di rumah, selagi ada waktu senggang gue pasti harus bisa ada di rumah, walau hanya sekedar duduk-duduk dan ngobrol bareng sama mereka. Kalo lo abisin waktu lo buat merantau, gue gak yakin lo bisa atau nggak kasi liat hasil yang udah lo perjuangkan sampe bela-bela ninggalin mereka di rumah.


Waktu terus berputar dengan cepat, tanpa terasa semua sudah berlalu, yang ada bisa jadi gak ada, yang menunggu bisa berhenti menunggu, yang berharap bisa saja berhenti berharap, semua hanya masalah waktu, tapi keluarga akan tetaplah menjadi sebuah keluarga tempat kita akan berpulang setelah sekian lama termakan oleh waktu.
Share:

Tuesday, August 8, 2017

Hidup adalah pilihan

Banyak sekali kita denger kalimat-kalimat orang diluar sana pada saat dihadapkan pada sebuah pilihan yang sulit untuk dipilih dan bahkan setelah dipilih malah menyulitkan dirinya sendiri. Ya, gue juga sangat sering mengalami hal seperti ini, entah dalam hal kerjaan, kehidupan sehari-hari, bahkan percintaan. Inilah gue sekarang, membuat keputusan yang paling sulit tapi harus gue jalanin, memutuskan hubungan dengan orang yang dulu paling gue sayang dan sudah gue jalani 5 tahun dalam suka maupun duka untuk orang yang gue anggap lebih baik dan pantas menemani hidup gue di masa depan. Berat ? Pasti ! Sulit ? Sudah Tentu ! Tapi inilah hidup, apapun yang lo pilih kedepannya kalian juga yang jalanin dan kalian juga yang akan ngerasain. Kehilangan teman karena berpisah dengan pasangan udah gue rasain, gak ada teman lama yang datang saat nikahan, aqiqahan bahkan jenguk saat lahiran juga gue rasain, tapi gak papa bagi gue orang lain hanya bisa berkomentar, mencaci maki, memberikan nasihat sebijak-bijaknya mereka, tapi itu semua kembali kepada hati nurani dan logika kalian masing-masing.

Sekarang gue lumayan bahagia dengan pilihan gue, kenapa gue bilang lumayan ? Pertama karena gue nyaris gak nyentuh satu tahun pacaran sama istri gue, jadi gue belum sepenuhnya paham untuk menjadi suami yang baik bagi dia, dan kedua gue juga belum sepenuhnya paham sama tingkat kematangan pikirannya saat menjalani masalah. Dilema selalu muncul saat terkadang pendapat kami tidak saling bertemu dan segelintir masalah dari yang kecil sampe yang lumayan besar menghantam.

Apakah pilihan gue tepat ? Atau pilihan gue ternyata salah ? Entahlah, setidaknya gue membuat pilihan gue sebagai laki-laki dan gue bertanggung jawab dengan hal tersebut.

Saat menulis tulisan ini gue sudah satu tahun lebih menikah dengan orang baru yang gue pilih dalam hidup gue dan sudah memiliki satu bayi lucu menggemaskan yang selalu menantikan kedatangan gue setiap dua minggu sekali. Ya, gue bukan tipe orang yang susah untuk move on, karena dasar pikiran gue logika bukan hati, jadi gak perlu lama bagi gue untuk menghilangkan rasa sama orang lain. Terdengar sangat kasar bagi orang yang selalu mengandalkan hatinya untuk berpikir tetapi tidak dengan logikanya

Karena posisi pekerjaan gue di luar kota dan hanya bisa pulang dua minggu sekali, hal ini menjadikan gue hanya ketemu bayi gue hari sabtu pagi sampe minggu sore, karena sorenya udah harus di perjalanan menuju luar kota tempat gue bekerja. Perasaan ingin berhenti itu sangat ada, kerja atau kuliah jauh dari orang tua kalian pasti udah biasa dan sangat mudah untuk diobati rasa kangennya. Tapi kalo kalian jauh dari rumah kecil (baca:suami/istri dan anak) kalian, itu rasanya seratus kali lipat lebih sakit. Gue bekerja pada salah satu BUMD yang ada di kota pontianak, gaji gue satu tahun sampe di angka sembilan digit dan gue pingin berhenti kerja karena gue gak bisa nahan rasa sakit kangen sama keluarga kecil gue, rumah gue dimana kebahagiaan yang dulu gue pilih dengan mengabaikan pilihan gue yang yang pertama. Tetapi, Konsekuensi gue berhenti kerja akan sangat banyak efeknya, otomatis gue harus cari kerja lagi dan gak mungkin perlu waktu sebentar bisa jadi satu sampe tiga bulan, terus kalo gue pengangguran kasian istri gue yang jadi beban harus menafkahi gue sama bayi gue, yang terakhir harusnya bayi gue bisa hidup sejahtera malah gak bisa karena gue gak kerja. Antara ketiga konsekuensi tadi lah mengurungkan niat gue (untuk sementara) berhenti kerja, karena saat ini gue lebih menanam modal gue untuk bisnis kedepannya.  

Nah, dari sini gue mendapat banyak sekali pelajaran berharga tentang pilihan dalam kehidupan, dimana terdapat pilihan yang mudah dibuat namun berdampak fatal dalam kehidupan atau pilihan sulit yang buat hidup kalian bahagia kedepannya. Intinya dalam membuat keputusan sinkronisasi antara logika dan hati kalian harus selaras memang beberapa hal akan terasa sangat tidak wajar jika tanpa logika dan sebaliknya akan terdengar sangat kasar jika tidak menggunakan hati, its just the matter of choice.

Share:

Thursday, July 31, 2014

Rumahku Istanaku

"Kita pindahnya kalo bisa abisin lebaran aja, biar cepat", seru Ibu gue.
"Iya, kalo bisa sekarang aja kali ya", ejek Ayah.
"Ngapain sih pindah ? kan di sini udah asik rumahnya, gimana kalo di sana nanti ada hantunya ? aku gak mau tidur sendiri, maunya sama abang", seru adik gue.
"Ya, terserahlah, mau pindah atau gak juga sama aja sih", seru gue.

Inilah yang hampir terjadi setiap hari di rumah, Ibu yang antusias banget pengen cepat pindah rumah karena rumah yang kami tempati ini sudah mulai tidak nyaman karena bangunannya mulai rapuh dan panasnya kebangetan. Entah efek global warming atau memang sirkulasi di rumah ini nggak bagus gue juga bingung, pas masa-masa kuliah dua tahun lalu gue masih bisa nyenyak tidur sampe jam satu siang, sekarang jam sembilan aja udah panas banget rumah ini. Ayah gue paling santai di rumah menanggapi antusias Ibu, "tunggu semuanya lengkap dan siap huni baru kita akan pindah", serunya.

Gue malah jadi orang yang kurang peduli dengan pindahan ini, memang ada rasa udah bosan dengan lingkungan saat ini, teman-teman kecil gue juga udah pada sibuk sendiri, tetangga lama udah pada mulai pindahan menyisakan tetangga baru yang kurang familiar. Tambah lagi kondisi rumah yang kalo diguyur hujan sedikit udah banjir, karena tetangga gue menutup dengan semen selokan samping rumah yang udah gue gali sendiri. Adik gue yang paling parno dengan pindahan ini, doi emang punya banyak teman yang masih tinggal di sini, jadinya kalo pindahan di sana susah buat ketemu sama teman-temannya. Tapi gak cuma itu aja, adik gue orang paling parno dengan hal-hal mistis, jadi gue pernah iseng-iseng ngomong kalo di rumah sana itu ada penunggunya dan dia suka lari-larian di lantai dua nya. Semakin menjadi lah parno adik gue untuk pindahan ke sana, dan dia inginnya sekamar dengan gue lagi, guenya yang males.

Bukan tanpa alasan sih gue ngomong kaya gitu, soalnya gue pernah denger ada yang lari di lantai dua, dan gue naik ternyata gak ada siapa-siapa. Sama kaya rumah lama gue ini, gue pernah pas kelas dua SD gak bisa tidur sampe jam satu malam. Sambil baca-baca buku komik doraemon kesayangan, gue mencoba memejamkan mata agar tidur, nah ternyata ada yang lari-larian di ruang tamu rumah gue dan bunyi seseorang banting pintu abis itu ngilang. Pertama gue kirain maling, tapi anehnya orang tua gue gak ada yang bangun sama sekali, pas gue cek keluar rumah ternyata gak ada siapa-siapa dan orang tua gue juga gak tau dengan kejadian itu. Semenjak itu gue takut untuk tidur larut malam. Tapi sampe sekarang untungnya gak pernah ada lagi kejadian kaya gitu.

Gue orang yag gak pernah masalah dengan mau pindah rumah atau nggak, memang rumah di sana lebih bagus dari rumah di sini dan butuh waktu dua tahun dengan cara nyicil membangunnya. Di sana juga gue dapat kamar sendiri dan ruangan lantai dua buat gue jadiin perpustakaan pribadi gue, halaman belakang yang cukup luas buat gue bikin gazebo dan kolam ikan untuk nyantai bareng teman-teman, dan yang paling penting menurut gue masih asri dan sejuk serta gak terlalu jauh dari jalan protokol Kota Pontianak.



"Yah, kalo bisa bulan agustus akhir kita udah pindah ya", bujuk ibu gue lagi.
"Semoga aja ya pagarnya selesai dan udah pada beres semua agar aman nanti", jawab ayah kalem.
"Kita cicil aja pindahannya dari sekarang, bawa peralatan makan dulu nanti baru barang yang gede-gede", seru ibu.
"Iya boleh juga", jawab ayah mantap.

Gue senang aja sih ngeliatin mereka semangat gitu, dari mulai nyari tanah, ngerencanain, sampe desain dan pemilihan warna cat masih sama kaya waktu pindahan pertama kali. Gue yang saat itu masih berumur empat tahun, ngeliat mereka masih sama semangatnya dengan sekarang. Harapan gue simpel, mudah-mudahan aja rasa semangat mereka gak pernah pudar meskipun rumah tempat kami berteduh itu rumah yang bagus ataupun jelek dan sesuai pepatah yang ada Rumahku Istanaku.
Share:

Sunday, July 20, 2014

Twenty Two Years Old Toys

"Aaarrgghhhhh", Teriak Gue di salah satu Mall Kota Jakarta.
Gak, bukan gue kecopetan, atau di grepe-grepe sama om atau tante-tante idung mancung. Gue teriak murni karena kaget akhirnya impian gue kesampean di sini.

Cerita ini bermula ketika gue masih Training di Jakarta awal januari kemarin, ketika gue masih suntuk-suntuk karena di sana gak ada temen gue dari pontianak. Beruntung temen-temen kantor di sana pada baik banget ngajakin jalan saat weekend sebelum gue pulang ke pontianak. 

"Gil, gimana kalo sabtu ini kita jalan-jalan yuk, kamu punya waktu luang gak ?", seru wanita paling cantik di ruangan gue, Mba Caca.
"Hmm, boleh banget mbaa, aku bosen nih suntuk di kos gak ada kerjaan juga", seru gue semangat plus modus.
"Kamu maunya ke mana ? Kan kamu belum jalan-jalan di jakarta selama satu bulan ini", tanyanya lagi.
"Kemana ya mbaa ? bingung juga kalo tiba-tiba di tanyaain gitu, ke tempat yang paling asik aja deh mba, mall gitu atau apa aja deh terserah mba caca", jawab gue bingung.
"Masih ada 3 hari lagi sih, kamu cari-cari aja tempat yang kira-kira kamu mau kunjungi, ntar aku temenin aja", jawabnya.
"Boleh mba, ntar aku kasi tau deh, aku cari-cari juga", jawab gue senyum.

Ternyata Mba Nina yang paling deket sama gue di sana dan sampe sekarang masih gue anggap bunda  yang paling sayang bagi gue denger percakapan kita barusan.

"Eh, kalian pada mau kemana ? aku ikutaan doonk", pintanya.
"Iya mba, ikut aja biar rame-rame kita jalan", seru mba caca.
"Iya bun boleh bangeet, biar rame-rame deh kitanya", sahut gue dengan penuh semangat.

Hari yang telah dientukan pun tiba, kita semua janjian ke kantor hari sabtu itu, karena gue satu-satunya yang gak punya kendaraan, jadinya gue jalan kaki dari kos ke kantor biar hemat dan memang karena deket juga jaraknya. Setelah sampe di kantor, gue pun mencari mereka dan ternyata mereka udah nungguin gue.

"Bun, Mba Caca, udah lama ya nunggunya ? Maaf yaa aku telat", seru gue sambil ter-engah-engah mengambil nafas.
"Iya gak lama kok gilang, santai aja, kamu lari-larian ya ?", tanya bunda.
"Gak kok bun, aku jalan santai aja", jawab gue sambil senyum nyengir.
"Jadi mau ke mana kita ?", tanya bunda dan mba caca.
"Hmmm, aku masih binguuung", jawab gue.
"Yaudah ke Lotte Shopping Avenue aja ya, mall baru gak jauh kok dari sini", seru mba caca.
"Boleeehh mbaa", jawab gue kegirangan.

Sesampainya di sana, gue norak, gue gagap, gue kagok, ini Mall nya gede, banyak barang-barang yang gak bisa gue dapet di pontianak, banyak juga barang-barang yang gak akan mampu gue beli, salah satunya mobil idaman semua laki-laki yang ada di dunia ini, yaitu Porsche 911 GT dan Rolls Royce Phantom Seharga 14 M. Noraknya gue foto dengan indah di depan mobil itu. Setelah jalan-jalan hampir 2 jam, akhirnya gue nemuin surga bagi gue dan mungkin anak laki-laki yang lain di muka bumi ini. Bukan, bukan sex toys kok. Yap, toko mainan. Bagi gue toko mainan anak laki-laki itu surga dunia banget, akhirnya gue bisa nemuin gundam-gundam yang gue idam-idamkan. Gue mendadak kalap, kesana kemari jalan-jalan belek-belekin satu per satu mainan yang ada di sana sambil teriak-teriak kegirangan yang membuat gue semacam anak yang mau di pedofil sama tante-tante montok.

"Kamu kenapa teriak-teriak gitu gilang ?", tanya mba caca heran sambil ngetawain gue.
"Aaarrgghh enggak mbaa, aku suka banget ada di sini, di toko mainan ini", jawab gue kegirangan.
"Hahaha kamu nih udah 22 tahun tapi mirip anak-anak deh ya", seru dia sambil tertawa.
"Hahaha iyaa mbaa, malu deh aku jadinya", jawab gue.
"Kenapa malu ?", tanyanya sambil tertawa lagi.
"Malu ajaa, di depan mbaa caca aku masih kaya anak-anak kecil gitu, tapi aku bangga mbaa", seru gue mantap.
"Bangga kenapa ?", tanyanya lagi.
"Iya, aku gak ngerti dengan anak jaman sekarang yang sok-sok an jadi orang tua, pretending to be old like an old man but still thinking like a baby in a diapers. Aku gak munafik kok, tapi ada masanya aku bisa jadi orang yang berfikiran tua dan kolot, tapi di dalam aku tetep masih ada jiwa anak-anak yang gak bisa aku tahan kalo ngeliat yang beginian. Walaupun begitu aku tetep bangga dan suka, I'm 22 Years Old and I Still Feel The Same Way Like I'm 5 Years Old When I see Toys.", jawab gue bangga.
"......", Mba Caca terdiam sambil tersenyum.
"Ya, kamu emang teteplah kamu, tetaplah seperti itu dan jangan berubah", jawabnya sambil tersenyum.

Gue pun tersenyum, dan gak jadi beli gundam yang tadi udah gue pegang erat-erat, karena harganya MAHAL banget ~
Until Now, Farewell ~
Isi Kepala Gue Kalo Masuk Mall
Share: