Showing posts with label Shit Story. Show all posts
Showing posts with label Shit Story. Show all posts

Tuesday, October 17, 2017

Sahabat Kerja

"Eh rick, dia yang notabene dibenci di kantor ini aja pas resign yang nangisin banyak, apa kita nanti kalo suatu saat resign banyak yang nangis atau malah banyak yang senang karna kita udah ga disini lagi ya ?" Pertanyaan gue kepada erick sesaat setelah salah satu rekan kerja di kantor gue diputus kontraknya karena dia miss behave.

Kenapa gue bilang gitu ? karena dia adalah satu-satunya pegawai kontrak wanita yang berani banting kunci motornya dan laci meja kantornya saat ada tamu dari kantor pusat. Gue yang saat itu baru empat bulan jadi seorang HRD (Human Resources Development), sering dipusingkan dengan hal-hal yang kaya gini, rasanya juga pengen ikutan resign. Kalo udah ada masalah pegawai yang dipanggil, tetep HRD nya yang duluan kena marah, nggak ngasi arahan lah, nggak ngasi contoh yang baik lah, nggak pernah sosialisasi etika pegawai dan bla bla bla. Padahal balik lagi ke pegawainya, kalo emang dia miss behave ya begitulah dia, mau diceramahin seribu kali juga bakalan tetep gitu.

"Iya ya, kenapa malah pada nangis ya ? Padahal kemarin-kemarin mereka juga kepengennya itu orang keluar dari sini. Mudah-mudahan aja sih gil pada banyak yang nangis dan melukin gue sambil cium pas gue keluar nanti", jawab erick sambil senyum nyengir.

Erick emang agak perv sejak gue kenal saat pertama masuk kantor ini dan makin perv semenjak bersahabat dengan gue di lantai tiga gedung kantor. Gue seruangan hanya berdua sama erick, karena HRD dan ADK (Administrasi Kredit) tidak boleh membaur dengan karyawan lain dengan alasan "Independensi". Gue sih suka aja seruangan cuma berdua sama erick, karena kami bisa melakukan hal apa saja di ruangan ini, oke mungkin ini kedengaran agak mesum. Maksud gue disini, kadang kami gunjingin pegawai-pegawai yang sebenernya agak kurang layak kerja di bank, kerjanya lama, sampe yang gak bisa dibilang sama sekali.

Nah, temen gue si miss behave yang dikeluarin tadi juga udah gue omongin sama erick ini bakal dikeluarin, cuma dia gak percaya karena dia mencapai target katanya. Tapi bagi gue peraturan nomor satu di pekerjaan apapun itu attitude, biar kalian pinter, rajin, hebat, tapi kalo gak punya attitude kalian gak akan bisa jadi orang hebat. Gue jujur cuma klop sama beberapa orang di kantor, tapi nggak berarti gue benci yang lain, nah miss behave ini klop sama satu orang dan sisanya jadi musuh bagi dia. Tapi heran banget gue pas dia diberhentiin malah banyak yang nangis, yang gue tau akhirnya semua itu air mata buaya juga sih. Celakanya lagi saat temen gue nangis sampe sesegukan gue sama erick ngetawain dia di dalem ruangan saat semuanya lagi sedih.

"Gil, lo liat tu si Anu, nangisnya sesegukan gitu, sampe hek hek hek (suara sesegukan)", bisik erick.
"Pfffftttt..kampret lo, lagi sedih juga ini", jawab gue sambil nahan ketawa.
"Perhatiin tu mukanya lucu banget", seru erik lagi sambil nyolek paha gue.
"Hihihihi", cekikikan gue sambil ngeliat kebawah meja nggak mampu nahan ketawa.
"Gilang, ada yang mau disampaikan sebagai HRD ?", seru bos gue.
"Hah ?? Nggak ada pak, eh apa ya ? Oh iya, mungkin sukses aja diluar kantor ini semoga ketemu pekerjaan yang cocok ya", jawab gue sambil sesekali mandang muka temen gue yang sesegukan yang membuat gue pingin ketawa pecah banget.

Selesai perpisahan singkat tadi, gue sama erick naik ke ruangan gue di lantai tiga dan kami ketawa pecah banget gak tau kedengeran atau nggak sampe ke bawah, rasanya lega banget gue.
"Ntar kalo gue resign, lo jangan nangis gitu ya, malu sama brewok", seru gue.
"Ya nggak laah, paling gue ketawa-ketawa ntar lo resign, karena lo jadi pengangguran", jawabnya.
"Ahh kampret lo", seru gue lagi sambil ketawa-ketawa.

Pada akhirnya gue yang resign duluan mengubah mindset kalo resign itu gak perlu ditangisin, karena kalo emang itu temen kalian ya dia pasti nanyain kabar terus nanti, sementara yang ditangisi tadi belum tentu juga ditanyain terus kabarnya. Saat resign dulu, gue buat suasana happy dengan karaoke bareng sambil sewa penari striptease. Pinginnya sih gitu, cuma niatnya gue urungkan karena mahal banget, jadi acaranya cuma mereka bebas nyampein unek-unek atau kesalnya mereka saat gue masih jadi HRD nya mereka. Sampe saat ini walaupun resign dan dapat kerjaan lebih baik, gue gak pernah putus hubungan sama temen kantor lama, kadang cuti juga gue masih main ke kantor sekedar say hello atau nimbrung ngobrol sampe main futsal bareng sama rekan dan sahabat kerja dulu, karena hubungan baiklah yang mempermudah rezeki kita nanti.
Share:

Tuesday, October 10, 2017

Banker

Banker atau pekerja bank atau pegawai bank atau karyawan bank dan yang paling kasar disebut kuli berdasi adalah seseorang yang bekerja di sebuah perbankan entah apapun itu jabatannya, asal mereka bekerja di bank maka banker lah sebutan bagi mereka. Tidak terkecuali gue, sudah empat tahun gue berprofesi sebagai banker pada dua perbankan yang ada di Pontianak ini. Mungkin bagi mereka yang awam pekerjaan ini sangatlah keren karena kerjanya berdasi, rapi dan bersih, bekerja di ruangan yang dingin dan memiliki penghasilan yang tinggi. Maka tak jarang banyak sekali  dari mereka yang baru lulus kuliah yang mencoba peruntungan untuk bekerja di perbankan, tapi hal ini biasanya berbanding terbalik dengan ekspektasi yang mereka harapkan di atas, tak jarang mereka yang berposisi di marketing atau collector mengeluh dengan pekerjaan perbankan.  

Mostly, bekerja di luar kantor itu sudah biasa bagi mereka, berpanas, kehujanan ataupun dimarah balik sama nasabah yang berhutang. Lebih parah temen gue di acungi mandau saat pergi menagih seorang debitur ke sebuah desa, ya kerja di bank itu tidak selamanya enak, marketing adalah tulang punggung bank, tujuh puluh persen dari kerja mereka lah laba dihasilkan dan dari mereka lah perusahaan mampu membayar gaji untuk karyawan lain. Kerjaan yang sulit berbanding lurus dengan cepatnya naik pangkat atau di perbankan disebut dengan Grade, cepatnya naik grade maka cepat pula menempati sebuah jabatan, bayangkan saja seorang marketing apabila 3 tahun berturut-turut mencapai target bisa saja dia naik jabatan menjadi Supervisor, sementara posisi selain marketing seperti customer service atau teller harus menjadi marketing lagi untuk bisa naik grade tersebut. Namun apabila target mereka tidak tercapai maka posisi mereka bisa saja menjadi paling rentan dalam sebuah perbankan, pemecatan menjadi hal yang sangat lumrah pada posisi marketing ini.

Yak, begitulah kira-kira gambaran pada sebuah perbankan, tapi tidak hanya kerjaan penat ataupun target deadline saja yang ada di perbankan, hal-hal lucu juga sering banget terjadi di perbankan selaam 4 tahun gue menggeluti pekerjaan ini. Hal yang paling lucu menurut gue yaitu ketika kantor gue yang berdampingan dengan sebuah rumah warga yang berprofesi sebagai perawat, sore itu saat bank sudah tutup masuklah seorang warga yang berbahasa daerah dimana gue gak paham bahasa daerahnya tiba-tiba datang ke customer service mau minta suntik.

Ilustrasi dalam bahasa indonesia
"Pak, aku mau minta suntik", tanya sorang nasabah.
"Hah ?? di sebelah bu kalo mau suntik", jawab temen gue yang lagi bingung dengan laporannya, jadi dia nggak terlalu merhatiin apa pertanyaan ibu tersebut.
"Pak, bisakah aku minta suntik sekarang ? Soalnya aku ndak bisa minum obat KB", Seru nasabah tersebut menghampiri temen gue di teller.
"Hahh ??? Suntik KB bu ??? Ini bank ibu, bukan puskesmas, mana ada suntik KB disini", jawab temen gue bingung. 
"Bukannya ini tempat Pak Ahmad ya ? yang biasa orang mau suntik KB ?", tanya nya lagi.
"Ohh, bukan bu, ini bank, kalo rumahnya Pak Ahmad itu di sebelah bank ini bu", jelas teman gue.
"Ohh, iyalah pak, terima kasih ya", seru ibu tersebut. Setelah dia keluar pintu gue sekantor pun tertawa terbahak-bahak sampe keluar air mata.

Dosa sih kami mentertawai orang tua dan nasabah kami sendiri, tapi hal tersebut memang diluar perkiraan kami biasanya hanya ada orang yang bawa buku tabungan bank lain minta di printkan bukunya, atau nasabah Credit Union yang juga salah mengira kami, padahal tanda Bank kami sudah besar dan Neon Box berdiri di pinggir jalan juga besar tetapi beberapa nasabah malah masih mengira kami sebagai bank lain dan paling parah adalah sebagai rumah tempat suntik KB.
Share:

Monday, September 18, 2017

Apa Kesah ?

Cerita ini gue alami beberapa bulan terakhir semenjak ditugaskan jauh dari kampung halaman, kurang lebih lima ratus kilometer ke arah utara kota pontianak, yaitu Kabupaten Kapuas Hulu alias Putussibau. Gak punya basic daerah sana, atau keluarga dari arah sana dan belum pernah sekalipun berkunjung ke sana menjadikan gue buta akan bahasa maupun kehidupan di sana. panik gue kambuh, pikiran gue mengawang jauh berpikir Apakah di sana ada pemakan orang ? Apakah di sana ada yang jual makanan ? Gimana gue pulangnya nanti ? Gimana kalo gue nyasar ? Gimana kalo gak ada sinyal ? Ya, gue emang agak bego kalo panik.

Jantung berdebar, perasaan mau muntah dan sakit perut bercampur aduk di bandara pagi itu, mana terbangnya pake pesawat ATR baling-baling, tambah lagi hujan deras beserta angin kencang menambah debar jantung pagi itu. Untungnya pesawat di delay dari jam delapan pagi sampe jam satu siang setelah cuaca mulai aman baru berangkat. Setelah sampe dan berbulan-bulan bekerja di sini akhirnya gue paham sedikit-sedikit dengan bahasa maupun seluk beluk kota yang jauh dari ibu kota kalimantan barat ini. Singkat cerita penugasan baru dari kantor membuat gue harus paham dengan bahasa ibu setempat, yak Customer Service (CS). Posisi dimana orang mengeluh masalah perbankan mereka sampe mengeluh masalah pribadi alias curhat. Mentor gue dulu pada saat on job training mengharuskan kami yang baru saja menjejakkan kaki di kota ini harus bisa minimal sedikit-sedikit berbahasa setempat karena disini tidak semua orang bisa bahasa indonesia, jangankan berbahasa indonesia, berbahasa melayu ciri yang menjadikan ciri khas Kalimantan Barat saja banyak yang tidak bisa.

Alhasil gue harus banyak mendengar dulu dan lebih banyak diam saat pertama kali bertugas di sini, sangat aneh bagi sebuah Bank jika CS mereka diam dan tidak melakukan Cross Selling sebuah produk. Pada saat memperhatikan teman yang berasal dari daerah setempat membuka obrolan dengan nasabah, mengobrol dan menutup obrolan, gue hanya tergamam dan sama sekali nggak paham dengan apa isi obrolan mereka, begonya lagi gue juga nyatat diam-diam dalam handphone arti dari beberapa kata atau kalimat yang umum.

Setelah beberapa minggu OJT akhirnya gue dapat Jobdesc tersendiri dalam melayani nasabah baik pembukaan atau penutupan rekening, sampe menjelaskan prosedur pengajuan kredit. Nah, masalahnya nggak semua orang yang mudah untuk diajak ngobrol, terkadang beberapa nasabah judes yang maunya ditanyain terus kaya cewek lagi ngambek dan cowonya berusaha mencairkan suasana. Nah gue teringat pernah diajarin temen dulu kalo memulai obrolan sama orang biasain pake bahasa hulu dan dimulai dengan kata "apa kesah ?" Yang Artinya "ada apa ?" Atau "ada perlu apa ?" Dan orang akan langsung bercerita apa keperluan dia. Begonya gue cuma tau "apa kesah?" Tadi tanpa mengetahui banyak kosa kata yang ada di sini. 

Gara-gara "apa kesah" tadi laah gue bengong bego ngedengerin nasabah tadi cerita sepuluh menit dan gue cuma ngangguk sama senyum teramat bego, karena satupun gue gak paham apa yang diomongkan sang nasabah. Temen dan bos gue cuma ketawa-ketawa nggak ada yang nolongin dan gue dapat pengalaman yang paling berharga kalo emang gak punya banyak kosa kata daerah lain jangan mulai percakapan dengan bahasa daerah tersebut, karena orang lain dapat beranggapan kita adalah orang setempat dan fasih berbahasa mereka, alangkah hina gue saat itu.

Share:

Monday, August 28, 2017

Tersesat

"Mampusss, ini gue ada di mana sih ? Kok gak ketemu-ketemu jalannya ? Mampuss kalo gue gak bisa balik dan harus ngegembel di jakarta, apa kata orang tua gue nanti ?!!!

Begitulah isi pikiran gue saat gue harus pindah dari hotel menuju kost baru gue, maklum aja gue adalah tipe orang paling bego kalo urusan ngapalin jalan dan nama jalan. Bahkan gue di pontianak udah ratusan kali lewat jalan yang sama tapi gue masih gak tau apa nama jalannya. Entah udah terkontaminasi mecin yang terlalu banyak atau entah karena apa gue juga gak tau, yang pasti hal ini sampe kebawa ke jakarta.

Ceritanya 2 tahun yang lalu saat gue harus pindah ke kost yang hanya bisa dilalui jalan-jalan tikus berlika-liku, parahnya lagi sama satpam kantor, yang bantu gue pindahan cuma dikasi tau sekali aja. Ratusan kali lewat aja gue bisa nyasar, apalagi cuma sekali. Alhasil beneran banget, sesampainya di kos gue takut mau keluar, takutnya simple NYASAR & NGAPUNG DI KALI CILIWUNG. Yak, gue memang seperti punya penyakit yang keren disebut dengan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) lebih simpelnya disebut Panik & Takut Berlebih, jadinya meemang takut buat keluar kost buat cari makan, takut nyasar, takut barang gue di kost ilang, takut gue di culik sama tante-tante sekitar dan di jadiin berondongnya. Oke yang terakhir gue mulai agak takut sendiri.

Tapi akhirnya setelah jam 3 gue beraniiin diri keluar dari kost dan jalan-jalan sendiri mengingat apa yang pak satpam kasi tadi, celakanya gak ada satupun yang gue ingat dari omongannya. Jadilah gue mutar-muter sendiri menemukan rute jalan dari kost menuju kantor dulu, setelah hampir 30 menit berjalan kaki muter-muter dari nemuin orang adu ayam di dekat kuburan sampe tempat pemancingan umum, gue melihat secercah harapan terang, gedung kantor gue kelihatan dan gue bisa ke sana.

Setelah makan di emperan samping kantor, gue rasanya pengen sujud syukur, makanan ini terasa nikmat didapat setelah muter-muter 30 menit. Tapi rasa pengen sujud syukur gue hilang, karena gue lupa jalan pulang tadi.

"Kampreeett, kenapa gue bisa lupa sih, padahal belum sampe 15 menit gue makan ini sate", keluh gue.

Akhirnya gue nyusurin satu per satu jalan tadi, dan akhirnya NYASAR LAGI !! Setelah hampir 30 menit juga, akhirnya gue nemuin dinding yang di cat logo ind**at gedee, nah lurus dari situ akhirnya gue nemuin sulaiman tower tempat di mana kos gue berada. Dengan kondisi badan yang mengenaskan, peluh dimana-mana, baju gue basah, kaki gue rasa kram jalan kaki 1 jam, betis gue rasa mau pecah, sariawan gue bengkak, dan ingus gue meler.

Setelah itu gue nyoba ngapalin jalan kantor-kos-kantor agar gak smpe 1 jam jalannya, karena kejadian itu juga bunda gue di kantor sampe bilang ke gue, 
"Ya, ampun gilaang, kamu tuh udah gede kan, gimana sih kok ngapalin jalan susah amat", seru dia sambil ketawa.
"Iya nih bun, bingung juga ngapalinnya, soalnya banyak lika-likunya sih", Jawab gue sedih.
"Iya bun, anterin dong si gilangnya, masa anak ente gak di anterin sih", seru mas Djarot sambil ngetawain juga.
dan gue pun ditertawain sama orang satu ruangan, hina banget rasanya saat itu.
Share:

Wednesday, August 16, 2017

Rumah Yang Jauh

"Gil, rumah lo jauh banget !!", seru seorang teman yang lagi ngeluh di perjalanan menuju rumah gue.
"Iya nih, kayanya daritadi gak nyampe-nyampe", tambah keluh dari seorang teman.
"Hahaha sabaar, 3 kilo lagi deh sampe", jawab gue dengan santai.
"Elaahh, kram nih bokong gue pake sepeda setengah jam lebih gak sampe-sampe", keluh teman gue makin menjadi.

Rencananya gue berempat sama temen gue, Yudha, Bayu, Untung dan Rian mau main kerumah gue untuk pertama kalinya. Yudha dan rian memang teman gue dari SD tapi mereka belum pernah ke rumah gue sama sekali. Bayu ini pemuda berlogat medok gak tau dari mana merupakan temen gue sejak SMP dan si Untung ini teman baru yang wajahnya agak panjang dan mirip kapten Usop di anime One Piece. Gue emang sering banget main kerumah mereka berempat, tapi mereka malah sama sekali gak pernah main kerumah gue. Wajar sih, karena gue juga gak mau bawa mereka ke rumah gue, waktu itu kita ke sekolah masih pake sepeda, dan rumah gue paling jauh dari mereka semua, jadinya habis deh gue di bully setiap ada hal yang berkaitan dengan jarak rumah. Sialnya lagi daerah tempat tinggal gue itu masih hutan dan sepi banget, semakin menambah kesan kalo gue itu titisan orang utan yang tinggal di daerah hutan. Terkadang kalo ada guru yang nanyain siapa di sini yang rumahnya jauh, dan biasanya ada yang teriak rumah gue, dan itu kampret.

"Brakkkkk","awwww", teriak temen gue si yudha sama rian.
"Hey kalian kenapa ?", teriak gue.
"Aww, berat banget lo yan, bangun donk cepat !!", teriak yudha yang barusan jatuh ditimpa rian dan sepedanya.
"Hahaha, nyaman lo rasain, makanya jadi orang jangan gendut2 banget", ejek bayu dan untung.
"Yaahh sobek dahh celana gue", keluh rian.
"Hahahaha yaudah pake sarung aja", ide bayu menanggapi.

Sekolah gue dulu mewajibkan semua anak cowok maupun cewek bawa alat solat, dan saat solat zuhur nanti semua di absen, kalo jarang solat nanti bakalan dihukum sama guru agama. Hukumannya variatif sih tapi biasanya nilai raport jadi sasaran, malu juga sih mata pelajaran agama nilainya rendah. Nilai agama gue sih sukurnya bisa dibilang baguslaah kisaran 5 gitu. 

Akhirnya si rian pun pake sarung dia buat nutupin celananya yang sobek sembari melanjutkan perjalanan ke rumah gue. Perjalanan masih menyisakan 15 Menit tapi kita semua udah kelelahan, gue juga baru-baru aja pergi ke sekolah pake sepeda, jadinya baru ngerasain kalo ternyata rumah gue itu lumayan jauh banget. Singkat cerita akhirnya kita semua sampe di rumah gue, untungnya gue udah bilang Ibu kalo teman-teman pada mau ke rumah, jadinya Ibu udah masakin kita mie rebus dan buatin kita minuman segar. Setelah mereka asik-asik main bola di depan rumah gue, sore pun tiba. 

Nah, saat udah mau pulang si rian lupa sama celananya yang sobek tadi, si doi malah asik mainan bola pake sarung. Akhirnya doi buka itu sarung di tengah lapangan depan rumah gue dengan santainya dan berjalan menuju rumah gue. Anehnya lagi doi gak nyadar kalo ditertawain sama semua anak kecil yang lagi main bola, tak terkecuali gue dan 3 orang lainnya. Setelah doi sadar ternyata celananya udah kebagi dua. IYA KEBAGI DUA ! PFFTTT Sobeknya semakin parah, dari atas retsleting bagian depan sampe ujung pantat dekat pinggang. 

"Eh yan, itu celananya buat gue ngepel lantai aja ya", seru gue sambil tawa cekikikan.
"Iya nih, tinggalin aja yan di sini, gak bisa dipake lagi itu sih", teriak yudha sambil ngakak.
"Kampreett kalian bukannya ngingetin kalo celana gue sobek parah gini", jawab rian.
"Coba kita gak ketawain ya tadi, pasti tetap pake sepeda dalam keadaan gini nih", tambah untung.

Akhirnya celana tersebut pun punah di rumah gue yang jauh ini dan dijadiin kain lap buat ngelap-ngelap sama Ibu gue, dan si Rian pulang pake sarung sama celana dalam dari rumah gue yang jauh ini dan menggunakan sepeda, gue berharap setelah kejadian itu pantat rian gak kenapa-kenapa.
Share:

Sunday, July 20, 2014

Dasar Sempak

Set my soul on fire..Set my soul on fire.. 

Begitulah bunyi alarm gue pagi itu, bernada lagu blues milik Gugun Blues Shelter yang berjudul Set My Soul On Fire pada pagi yang dingin di kota jakarta. Hujan masih turun sejak tadi malam, berita banjir sudah bertebaran di seluruh media massa. Pagi yang sangat dingin dan gue harus bangun pagi-pagi untuk ngantor. Yak, betapa kampretnya, jam sudah menunjukkan pukul 07.30, sementara gue harus masuk pukul 08.00. Cobaan gue bertambah, gue panik, handphone gue lempar ke kasur yang betapa begonya ternyata pantulan handphone yang gue lempar jatoh ke lantai dan berhamburan.
"Aaargghh kamprett", jerit gue pagi itu kayak emak-emak yang lagi mau goreng ikan tapi ikannya dicuri oleh kucing. Gue ngedumel sembari memasukkan kembali baterai handphone gue yang berserakan di lantai.

Langsung bergegas mandi di pagi yang dingin itu membuat badan gue serasa menggigil, ternyata air yang keluar dari keran kamar mandi kos gue berasal dari air guyuran hujan. Jadinya bisa lo tebak sendiri, dua kali ayunan gayung dan tanpa sabun serta shampo gue langsung selesai mandi. Gue liat jam tangan gue udah tinggal 15 menit lagi jam 8, sementara jarak dari kos ke kantor itu kurang lebih 15 menit.
"Mampus, pasti telat gue kali ini", dalem hati gue berkata.
Secepat dan sebisa mungkin gue berpakaian rapi dan harus tampil semaksimal mungkin walopun terlambat, gue pinginnya pake pakaian acak-acakan aja ke kantor, seperti atasan piyama dan bawahan celana kain hitam. Jadi gue punya alasan ntar pas bos gue nanya "Gil, kenapa kamu telat ?"

"Maaf bu, pakaian saya habis semua, basah diguyur hujan bu", Alasan yang perfect, tapi gue urungkan karena ntar dikira gue mau pesta tidur sama direksi.

Bergegas lari keluar kamar dan langsung menuju kantor tanpa liat kiri kanan, untungnya gue udah hafal jalannya. Sampe kantor ternyata bener gue telat, semua orang udah pada doa pagi gue menyelinap sambil diam-diam ala ninja hatori dan ternyata sang OB yaitu mas yono menemukan gue di pantry lagi minum segelas air putih.

"Nah, mas gilang ya gak ikut doaa pagi", gap mas yono.
"Hehehe anu mas, saya telat, malu mau ikut doa, mending saya di pantry dulu deh, haus juga nih", jawab gue sambil cengengesan.
"Yah gapapa toh mas, ikut aja, gak ada yang ngelarang kok", tambah mas yono dengan logat jawanya.
"Nggak usah mas, mending disini dulu deh, sambil nemenin mas yon aja", jawab gue lagi.
"Yowes, aku mau pergi ambil kopi dulu mas, mas gilang mau gak ?", tanya yono.
"Boleh mas, item ya, jangan terlalu manis-manis", pinta gue
"Ya item toh mas, kalo merah itu teh Hahaha", jawabnya sambil ketawa.
"Bener sihh, kenapa elo yang pinter gue yang bego", jawab gue dalam hati.

Singkat cerita kopi yang dibuat mas yono ini pait, padahal gue mintanya gak terlalu manis, entah apa yang salah dengan otak mas yono pagi itu gue gak tau yang jelas tiba-tiba abis minum itu kopi gue ngerasa perut gue mules pake banget. Mungkin yono sang OB udah ngasi gue obat pencahar di dalam kopi itu, mungkin dia tau kalo gue sering curhat di recent update beberapa hari ini gue memang slit BAB.

Rasa sakit perut mengalahkan rasa malu buat pup di wc kantor yang notabene biasanya orang cuma cuci muka sama ngerapihin rambut. Singkat cerita selesai pup gue ngerasa ada yag aneh dari sempak gue, "Ini kok ada tulisannya di dalem ya, kok jaitan bagian dalemnya rapi bener", pikir gue.

Celakanya bego parsial gue kambuh dan gue telat nyadar, akhirnya setelah kurang lebih 5 menitan mandangin itu sempak gue tau kalo ternyata sempak yang gue pake itu kebalik, IYA KEBALIK ! Pantesan aja rasanya adem ayem selangkangan gue, biasanya jaitan sempak bagian dalem itu banyak benang-benang yang serabutan gitu, serabutan itu biasa bikin efek gatel. Dengan rasa bangga udah nemuin dimana letak kesalahannya dan dengan rasa bego gue gak nyadar kalo ternyata sempak yang gue pake itu kebalik, akhirnya sempak itu pun gue balik, berubah dari SIDE-A menjadi SIDE-B.

Semua berkat kopi item pait ala obat pencahar mas yono, kalo gak ada beliau, pasti gue pake sempak kebalik dari kost dan kembali ke kost pada malem hari. Terima Kasih mas Yono. #NP Syukur

Share: